Ketika Dahlan Iskan Berbicara tentang Dunia yang Sedang Bergeser dan Indonesia yang Harus Memilih
Ruang Theater Institut Asia Malang,
Kamis pagi itu, terasa lebih sesak dari biasanya. Kursi-kursi terisi penuh.
Sebagian peserta berdiri di sisi dinding. Layar besar di depan panggung
menyala, menampilkan wajah-wajah yang hadir dari jarak jauh melalui sambungan
daring. Mereka semua datang untuk satu alasan, mendengar
Dahlan Iskan berbicara.
Bukan sembarang topik yang dibawa tokoh
pers nasional itu ke hadapan ratusan mahasiswa dan masyarakat umum pagi itu. Di
bawah tajuk “Membaca Zaman & Berpikir Merdeka di Era Media Sosial”,
Dahlan membuka sesuatu yang jarang dibicarakan secara terus terang di forum
akademik: bahwa dunia sedang bergeser, bahwa Indonesia berada persis di titik
persimpangannya, dan bahwa generasi muda bangsa ini belum tentu siap
menghadapinya.
Dahlan tidak memulai dengan data atau teori. Ia memulai dengan sebuah kenyataan yang ia yakini sudah terlalu lama diabaikan: peta kekuatan global sedang mengalami pergeseran paling masif dalam beberapa dekade terakhir. Rivalitas antarkekuatan besar dunia bukan lagi sekadar perang dingin yang bisa disaksikan dari kejauhan. Ia sudah masuk ke dalam sendi-sendi ekonomi, informasi, dan bahkan cara berpikir masyarakat di negara-negara berkembang.
Yang menarik dari pemikiran Dahlan
bukan hanya soal siapa kekuatan global yang perlu diwaspadai. Justru yang
paling menohok adalah ketika ia menunjuk ke arah yang tidak banyak orang duga:
ancaman terbesar bagi Indonesia, menurutnya, bukan datang dari luar perbatasan, melainkan dari dalam kepala kita sendiri.
Di era di mana narasi geopolitik dibentuk
dan disebarkan melalui algoritma media sosial, bangsa yang tidak terlatih
berpikir kritis akan mudah digiring oleh kepentingan pihak lain. Algoritma
platform digital, Dahlan mengingatkan, tidak dirancang untuk mencerdaskan
penggunanya. Ia dirancang untuk mempertahankan perhatian mereka selama mungkin dan dalam proses itu, tanpa disadari, membentuk cara pandang jutaan orang
terhadap dunia.
“Kita dibentuk oleh pendapat umum yang padahal belum tentu benar,” ujar Dahlan, tenang namun tajam. Kalimat itu seperti batu yang dijatuhkan ke kolam yang tenang. Sederhana. Tapi riak-riaknya terasa jauh.
Dahlan Iskan tidak memberikan jawaban
yang mudah di forum itu. Ia tidak menawarkan formula ajaib untuk menghadapi
tekanan geopolitik global. Yang ia tawarkan justru lebih mendasar, kesadaran bahwa Indonesia harus memilih, dan bahwa pilihan itu
harus lahir dari pikiran yang merdeka, bukan dari pendapat umum yang diterima
begitu saja.
Indonesia tidak kekurangan generasi muda yang cerdas. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kecerdasan itu sudah diasah untuk membaca dunia yang sesungguhnya...bukan dunia yang ditampilkan oleh algoritma?


Tidak ada komentar: