Alarm Pendidikan TKA 2025, Tanggungjawab Siapa?
AfgNews - Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025
yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen)
mengejutkan banyak pihak. Rata-rata nilai mata pelajaran wajib di tingkat
SMA/SMK sederajat menunjukkan penurunan signifikan, terutama pada Matematika
dan Bahasa Inggris. Data resmi mencatat, Bahasa Indonesia memperoleh rerata
55,38, Matematika hanya 36,10, dan Bahasa Inggris terpuruk di angka 24,93.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed,
menegaskan bahwa TKA bukanlah penentu kelulusan. Tes ini dirancang sebagai assessment
as learning untuk memetakan mutu capaian akademik siswa. Kelulusan tetap
ditentukan oleh masing-masing sekolah melalui ujian akhir semester. Namun,
hasil TKA akan menjadi pertimbangan penting bagi perguruan tinggi, khususnya
jalur prestasi.
“Bagi siswa yang tidak mengikuti TKA, bukan berarti jalan
mereka tertutup. Nilai rapor tetap menjadi dasar bagi perguruan tinggi dalam
menelusuri calon mahasiswa,” ujar Prof. Mu’ti dikutip dari
pontianak.jawapos.com
Hasil TKA 2025 menjadi cermin kondisi pendidikan nasional.
Rendahnya nilai mata pelajaran wajib menandakan perlunya perbaikan metode
pembelajaran. Pemerintah berharap data ini menjadi pijakan bagi kebijakan
berbasis bukti (evidence-based policy).
Kemampuan berpikir kritis matematis menurut Yanti &
Prahmana(2017) yang dikutip oleh Aghniya dkk
merupakan kemampuan seseorang memahami
permasalahan matematika secara
intelektual kemampuan berpikir
kritis matematis merupakan proses dasar berpikir dengan menganalisis pendapat
dan menghasilkan ide disetiap masalah agar dapat mengembangkan pemikiran yang
logis.
Sebagai Freshgraduate, kami memandang bahwa solusi jangka
panjangnya tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan pemerintah pusat,
melainkan harus dimulai dari reorientasi metode pengajaran guru yang beralih
dari sekadar transfer of knowledge dan kejar tayang materi menuju
penguatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) serta literasi numerasi
yang kontekstual. Guru perlu dibekali pelatihan intensif untuk mengajarkan
logika berpikir dan pemecahan masalah, bukan sekadar hafalan rumus atau kosa
kata, sehingga siswa terlatih menghadapi teks kompleks dan interpretasi data.
Maka dengan cara inilah, kita bisa mencetak generasi yang tidak hanya lulus
ujian, tetapi benar-benar siap bersaing secara global dengan kompetensi yang
substansial.
%20(A3).png)
Tidak ada komentar: