Header news

✒️ |

Alarm Pendidikan TKA 2025, Tanggungjawab Siapa?

AfgNews - Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengejutkan banyak pihak. Rata-rata nilai mata pelajaran wajib di tingkat SMA/SMK sederajat menunjukkan penurunan signifikan, terutama pada Matematika dan Bahasa Inggris. Data resmi mencatat, Bahasa Indonesia memperoleh rerata 55,38, Matematika hanya 36,10, dan Bahasa Inggris terpuruk di angka 24,93.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed, menegaskan bahwa TKA bukanlah penentu kelulusan. Tes ini dirancang sebagai assessment as learning untuk memetakan mutu capaian akademik siswa. Kelulusan tetap ditentukan oleh masing-masing sekolah melalui ujian akhir semester. Namun, hasil TKA akan menjadi pertimbangan penting bagi perguruan tinggi, khususnya jalur prestasi.

“Bagi siswa yang tidak mengikuti TKA, bukan berarti jalan mereka tertutup. Nilai rapor tetap menjadi dasar bagi perguruan tinggi dalam menelusuri calon mahasiswa,” ujar Prof. Mu’ti dikutip dari pontianak.jawapos.com

Hasil TKA 2025 menjadi cermin kondisi pendidikan nasional. Rendahnya nilai mata pelajaran wajib menandakan perlunya perbaikan metode pembelajaran. Pemerintah berharap data ini menjadi pijakan bagi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Kemampuan berpikir kritis matematis menurut Yanti & Prahmana(2017) yang dikutip oleh Aghniya dkk merupakan kemampuan  seseorang  memahami  permasalahan  matematika  secara  intelektual  kemampuan berpikir kritis matematis merupakan proses dasar berpikir dengan menganalisis pendapat dan menghasilkan ide disetiap masalah agar dapat mengembangkan pemikiran yang logis.

Sebagai Freshgraduate, kami memandang bahwa solusi jangka panjangnya tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan pemerintah pusat, melainkan harus dimulai dari reorientasi metode pengajaran guru yang beralih dari sekadar transfer of knowledge dan kejar tayang materi menuju penguatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) serta literasi numerasi yang kontekstual. Guru perlu dibekali pelatihan intensif untuk mengajarkan logika berpikir dan pemecahan masalah, bukan sekadar hafalan rumus atau kosa kata, sehingga siswa terlatih menghadapi teks kompleks dan interpretasi data. Maka dengan cara inilah, kita bisa mencetak generasi yang tidak hanya lulus ujian, tetapi benar-benar siap bersaing secara global dengan kompetensi yang substansial.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.